Isi Artikel Utama

Slamet Muliono Redjosari

Artikel ini mendeskripsikan pandangan kaum Salafi terhadap perlawanan terhadap tumbuh berkembangnya lembaga pendidikan berbasis Salafi. Hal ini seiring dengan perlawanan terhadap tumbuh pesatnya lembaga-lembaga pendidikan dan pesantren Salafi di berbagai tempat, seiring dengan melesatnya dakwah kaum Salafi. Menariknya, perlawanan dari sekelompok masyarakat atas tumbuhnya lembaga pendidikan dan pesantren kaum Salafi, dengan mengaitkan dengan  radikalisme dan terorisme. Adanya tuduhan sebagai lembaga yang mengancam ideologi negara bukannya menyurutkan animo masyarakat. Dengan alasan kurang ramah dengan budaya lokal, maka masyarakat lokal bergerak untuk menolak berdirinya pengembangan lembaga pendidikan dan pesantren berbasis Salafi ini. Lembaga pendidikan berbasis Salafi ini justru mengalami peningkatan minat dan mengalami perkembangan pesat. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif, penelitian ini menggali sumber data dengan mewawancarai pimpinan dan pengelola lembaga pendidikan dan pesantren kaum Salafi, yakni Stai Ali bin Abi Thalib di Surabaya, dan STDI Imam Syafi’i Jember. Fokus pada dakwah tauhid bisa menjadi faktor yang membuat meningkatnya perlawanan masyarakat lokal, karena dianggap sebagai ancaman serius terhadap budaya yang sudah mentradisi di tengah masyarakat. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa munculnya berbagai penolakan atas berdirinya lembaga pendidikan dan pesantren berbasis Salafi ini lebih banyak disebabkan kurang terjalinnya komunikasi di antara kedua pihak ini. Kesalahpahaman dan tersumbatnya jalainan komunikasi ini menjadi salah satu pemicu ketegangan di antara kedua kelompok ini.


 


Kata Kunci : Kaum Salafi, pendidikan, radikalisme, perlawanan, budaya lokal.